Kita Semua Pernah
Bismillahirrahmanirrahim…
Hoaamm…
Hai
semua, sudah lama tidak bertemu! Maaf aku baru bangun dari tidur panjang dan
aku rindu sekali berbagi cerita dengan kalian lewat note ini. Apa yang akan
kubagi pada kalian kali ini?
Sesuatu
yang mungkin pernah dialami atau sedang mengalaminya.
Pernahkah
kalian terjatuh dalam sebuah perjalanan menuju mimpi? Aku pernah, dia pernah,
mereka pernah, kita semua pasti pernah mengalaminya. Beberapa waktu lalu aku
tengah melalui saat-saat itu, di mana aku jatuh ke lubang dalam dan tak sanggup
untuk berdiri serta melanjutkan. Maka hal terburuk yang terlintas saat itu
adalah aku akan berhenti dan mengakhiri semuanya. Putus asa melanda bahkan
ketika jarakku belum terlalu jauh dari start. Kala itu mencapai titik jenuh,
aku bosan, aku berhenti melakukan apapun yang sudah menjadi kegiatan harian.
Kalian tahu apa impian kecilku di tahun ini? Menjadi “penulis punya nama”. Penulis
dengan buku pertama berdiri anggun di rak Gramedia sebagai identitas sederhana
dan bukti paling bahagia dari kerja keras selama ini. Tapi seakan-akan impian
kecil itu terlalu jauh digapai, aku tidak melihat ada lubang besar sehingga
terperosok masuk ke dalamnya. Lubang itu membuatku sangat lelah hingga aku
berhenti. Tidak melakukan apa-apa, tidak mengingat rencana-rencana besar yang
telah tersusun rapih dalam planning hidup, bahkan jauh untuk berharap lagi.
Itu masa terberatku. Ditambah dengan
segala keterbatasan ini semakin semuanya terlihat sangat sulit. Saingan di mana-mana,
inspirasi tersendat, mengirim karya ke berbagai penerbit tidak ada media yang
mendukung, bukan tidak ada, lebih tepatnya susah sekali mendapatkan media
tersebut. Apalagi mendengar sahabat sukses mengukir dunianya menjadi bagian
dari buku menggapai asa dan impian. Lalu dengan diriku? Aku hanya diam.
Melanjutkan pun seperti sia-sia. Hidupku monoton, bangun tidur, mandi, makan,
bersih-bersih, mengerjakan hal tidak penting, makan siang, mengerjakan hal
tidak penting lagi, mandi, makan malam, dan tidur, terus berputar setiap
harinya. Melihat si Pink hanya tergeletak manis di atas meja, menanti
pemiliknya siap untuk menoreh kisah-kisah inspiratif. Aku putus asa. Semangatku
selama ini luntur. Harapan yang kubangun perlahan-lahan pudar, hilang tanpa
jejak. Kata temanku, Shofi si calon psikolog handal, kita harus memiliki satu
teman kepercayaan untuk berbagi cerita setidaknya satu orang, sehingga kita
tidak sibuk dengan pikiran sendiri yang berujung stress karena terlalu banyak
yang dipendam. Aku pernah memiliki satu orang kepercayaan itu, sebenarnya baru
kutemukan, dan aku langsung menganggapnya bisa menjadi teman curhatku karena
rasa nyaman ketika berbagi cerita bersamanya. Tapi sayang, dia memilih pergi,
menjauh tanpa memberikan alasan. Bisakah seseorang yang sudah terlalu jauh kita
minta untuk kembali? Entahlah, aku selalu berharap dia datang dan melanjutkan
cerita kami lagi.
Dua
minggu lebih aku tak berkutik, masih asik meladeni putus asa. Tapi bukan Nabila
jika kalah bertarung, larut hikmat dengan sifat negative satu itu, berhenti
bermimpi, atau tidak percaya lagi walau sekadar berharap sedikit. Tidak, aku
tidak mungkin semudah itu menyerah. Sisa semangat masih ada dalam diriku, dan
kugunakan untuk bangkit. Tertatih, aku berdiri, keluar dari lubang dalam itu.
Menarik napas sejenak, mengingat kembali mimpi-mimpi yang telah membuatku
menjadi seorang ambisius dan yang telah menghiasi lembar halaman bukuku dengan
graffiti perjuangan serta manisnya sebuah pengharapan selama ini. Si Pink
kusapa hangat, berdebu karena telah lama bertengger istirahat. Lalu kumulai
lagi, mengejar impian kecil yang sudah semakin jauh terbawa waktu berjalan
tanpa mau peduli. Tekad berdiri lebih kokoh dari sebelumnya. Aku mulai menulis
dan membaca lagi, meski masih terasa hambar, namun tak kugubris. Aku harus
tangguh, tidak boleh kalah dengan tantangan, sesuatu tak terlihat yang justru
membuatmu semakin kuat. Penerbit-penerbit incaran akan kubuat jatuh cinta,
apapun halangannya, kutembus dengan gagah layaknya ksatria hebat di medan
perang.
“Jika
kau terpuruk dalam kebingungan, cacian, dan tekanan, yakinlah itu bukan awal
kegagalan, namun itu awal dari sebuah keberhasilan dan kekuatan dirimu”
Jika lelah berlari, berhentilah,
tapi jangan sampai mencoba berbalik ke garis start dan mengangkat bendera putih
tanda penyerahan. Anggap istirahat sejenak itu sebagai waktu luangmu untuk
berpikir lebih matang serta mengatur strategi lebih jitu. Jika mudah menyerah,
lebih baik mati sekalian. Untuk apa hidup jika hidup itu sendiri adalah sebuah
arena tempat kita bertarung tetapi kita telah menyerah, laksana ranting pohon
yang terbawa arus sungai, tidak bisa melawan, pasrah ke mana air membawanya
pergi. Lantas, apa yang akan dilakukan apabila semua rencana yang diinginkan
tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Jangan menyerah, jangan putus asa,
atur ulang rencana itu, yakin, percaya, dan mulai wujudkan kembali. Itu berarti
proposal pengajuanmu tidak diijabah oleh Tuhan, Dia lebih tahu yang terbaik
untukmu. Apa aku asal bicara? Tidak, aku pernah merasakan hal itu juga.
Bayangkan, kau sudah berusaha sekuat tenaga agar impianmu saat itu dapat
tembus, tapi akhirnya gagal total. Aku bersemedi berhari-hari bermalam-malam
karena kegagalan itu. Dan ternyata Tuhan punya rencana lain yang justru rencana
itu kubutuhkan. Aku sangat bersyukur sekarang ada di tempat kuberpijak. Bertemu
dengan manusia-manusia hebat dengan pemikiran – menurutku – lebih maju dari
pemikiran orang-orang yang berada di luar sana, terlindungi dari paparan sinar
matahari, eh, maksudku dari pergaulan bebas serta gemerlap hedonism yang
memudarkan jiwa nasionalis dan lebih mementingkan ego pribadi (meskipun tidak
semua, masih ada sebagian kecil yang tidak termasuk). Dan aku akan membuktikan
pada mereka-mereka bahwa aku bisa lebih sukses meskipun masih di tempat yang
sama. Tekadku bukan ilusi semata, aku yang akan membuatnya nyata.
Yup, inilah kisahku, dan sepertinya
sudah cukup. Meskipun kuyakin masih ada yang lebih terpuruk lagi daripada aku,
tetapi setidaknya cerita ini mewakili betapa jatuh itu pasti ada, dialami oleh
semua orang, hanya saja jangan sampai membuat kita malah menjadi seperti
ranting pohon yang tak berdaya terbawa arus. Tetap semangat demi menggapai
cita-cita gemilang. Sekian dulu dariku, mohon maaf apabila ada kesalahan. Semoga
aku, kau, mereka, dan kita semua menjadi manusia yang terbaik, bermanfaat bagi
orang banyak, serta dapat mewujudkan mimpi dan harapan di usia semuda mungkin. Semoga
tulisan ini dapat menginspirasi siapapun yang membacanya. Aamiin.
Terima
kasih. Salam inspirasi.
Walhamdulillahirobbil
‘alamin…
November 2, 2014
“Masih di tempat yang sama”
“Masih di tempat yang sama”
-Nabila Sang
Inspirasi Dunia-
Komentar
Posting Komentar